24 Maret 2009

17. Pembalikan Akord (1)

Sejauh ini, Anda sudah memelajari triad dan nada bas. Triad terdiri dari tiga nada yang masing-masing dibentuk oleh dua interval ketiga. Ketika nada bas sebagai nada terendah Anda tambahkan pada triad, nada ini memperluasnya menjadi empat nada harmonik. Nada bas sama dengan nada dasar dari suatu akord empat nada atau lebih.

Akan tetapi, akord yang sama yang Anda pakai berkali-kali mengakibatkan nada basnya sama juga. Pemakaian akord dan nada bas yang sama berkali-kali akan membosankan pemusik dan pendengarnya, seperti contoh berikut:

Burung kakatua rock

Bagian awal dari suatu versi rock 'n roll Burung Kakatua yang terdiri dari empat birama memakai hanya satu akord: C. Untuk ritme rock 'n roll, pengulangan akord macam ini normal. Musik rock yang mengandalkan ritme yang kuat dan teratur memang membutuhkan perulangan akord; kalau akordnya berganti setiap ketukan, kekuatannya sebagai rock terganggu dan berkurang atau malah hilang. Jadi, perulangan akord tadi tidak menimbulkan masalah dalam musik rock 'n roll.

Yang menimbulkan masalah adalah jalur basnya. Nada bas potongan nyanyian anak-anak tadi (C atau do) tidak salah; ia adalah nada paling rendah dari akord C. Masalahnya, jalur bas ini monoton karena mengulangi not yang sama selama empat birama sebanyak enam belas kali. Iringan bas yang monoton seperti ini jelas menjemukan pendengar, tidak menghidupkan gerak energik ritme rock.

Demi mencegah monotoni atau hilangnya tenaga ritme rock, jalur bas potongan nyanyian tadi perlu dihidupkan. Caranya? Melalui variasi mengikuti aturan variasi jalur bas rock 'n roll. Salah satu variasi jalur bas rock demikian:

Burung kakatua rock1

Naik-turunnya nada bas sesuai aturan musik rock 'n roll sekarang menghidupkan jalur bas potongan Burung Kakatua. Variasi nada bas ini mencegah monotoni, kejemuan, gerak bas yang hanya mengandalkan satu nada saja.

Variasi tadi sekaligus menunjukkan apa yang dalam ilmu musik Barat diistilahkan pembalikan.Dalam contoh kedua, pembalikan ini kentara pada not C, E, dan G (do, mi, dan sol); not-not lain (A dan Bb atau la dan sa) adalah variasi. Pembalikan menghasilkan variasi nada bas yang kemudian mengurangi atau mencegah monotoni jalur bas.

Meskipun variasi menghidupkan jalur bas nyanyian rock 'n roll, ilmu harmoni Barat mengatakan susunan akord dengan nada dasar sebagai nada bas adalah susunan yang normal. Susunan ini menghasilkan susunan akord yang berbunyi mantap karena bulat dan tenang.

Tiga Macam Pembalikan

Ada tiga cara pembalikan nada bas. Pertama, dengan memakai nada ketiga di atas nada pertama. Kedua, dengan memakai nada kelima di atas nada pertama. Ketiga, dengan memakai nada ketujuh di atas nada kelima. Untuk kemudahan pemahaman, akord-akord yang dipakai sebagai contoh penjelasan ketiga macam pembalikan ini berdasarkan tangganada diatonik mayor C.

Contoh-contoh penjelasan tentang nada ketiga, kelima dan ketujuh sebagai nada bas tidak saja melibatkan akord tonika. Ia melibatkan juga akord-akord jenis lain dalam suatu tangganada. Untuk mudahnya, berbagai contoh yang akan dijelaskan melibatkan akord-akord dalam tangganada diatonik mayor C.

Nada ketiga menjadi nada bas

Triad tonika

Nada ketiga dari triad C (do-mi-sol atau 1-3-5) adalah mi (3). Akord C yang dibentuk berdasarkan not do sebagai nadanya yang terendah dan sekaligus nada basnya disebut akord tonika. Dengan mi sebagai nada terendah atau nada bas yang baru, urutan nada akord ini menjadi mi-sol-do atau 3-5-1 dengan nada terakhir sebagai nada tertinggi. Kalau Anda menghitung jarak nada antara mi dan do, Anda menemukan interval keenam: mi-fa-sol-la-si-do (3-4-5-6-7-1). Karena jarak nada enam ini, akord yang memakai nada ketiga sebagai nada basnya disebut akord sekst (keenam). Akord ini masih suatu akord mayor.Tanda resmi akord ini adalah I6.

Berbeda dengan akord tonika yang nada basnya bulat dan tenang, nada ketiga sebagai nada bas akord sekst menghasilkan bunyi musikal yang tajam, kurang tenang, kurang bulat, kurang berwibawa dibanding nada bas akord tonika. Nada bas mi, karena itu, dipakai sebagai suatu variasi sesudah akord tonika. Ia biasanya dipakai sesudah suatu potongan melodi mencapai suatu puncak. Tapi nada mi tidak dipakai di akhir suatu kalimat melodik, seperti suatu kadens biasa.

Contoh:

Kudengar berkatMu

Bagian awal melodi lagu gereja ini membentuk suatu kadens setengah. Melodi mulai dengan akord tonika (C) dan berakhir untuk sementara melalui suatu progresi akord dengan akord dominan (G). Puncak frasa melodik ini terdapat pada not sol (G) birama pertama. Akord C yang dipakai adalah pembalikan pertama - mi-sol-do-mi - dari akord C di depannya. Nada mi sebagai nada bas akord ini ditandai huruf E sesudah garis miring. Dalam bahasa musik tentang pembalikan akord, penulisan akord tadi yang dibalikkan bersama basnya diistilahkan C on E atau C slash E. Pemakaian akord C/E di depan Dm pun bagus; nada E turun secara bertangga ke nada bas D (re) dari akord Dm lalu bergerak naik ke nada bas dari C/G. Dalam birama kedua, akord tonika mengalami pembalikan kedua sehingga nada basnya menjadi sol (G) dengan urutan sol-do-mi (5-1-3). Akord C/G sangat efektif sebagai pendahulu akord dominan yang nada basnya adalah G (sol); dalam birama tadi, akord C/G mendahului G sebagai akord dominan.

Triad dominan

Triad dominan pada posisi asli adalah G-B-D (5-7-2 dengan nada terakhir sebagai not tertinggi). Nada basnya adalah G. Pembalikan pertama triadi ini mengakibatkan nada ketiga (B) dihitung dari nada pertama (G) menjadi nada bas yang baru: B-D-G (7-2-5 dengan nada pertama sebagai nada terendah). Meskipun nada ketiga sekarang menjadi nada bas, urutan triad yang dibentuk masih tergolong triad mayor.

Apa sifat dan peranan nada bas dari pembalikan pertama nada bas? Nada B sebagai nada bas bersifat lebih tajam dari nada G, tidak tenang, dan, karena itu, ingin menjadi tonika. Di samping itu, nada B berperan sebagai variasi sesudah triad dominan asli. Akan tetapi, nada B tidak boleh Anda pakai di akhir baris melodik dalam kadens setengah.

SALAH

Tanase

Potongan melodik dari suatu lagu rakyat Ambon ini menunjukkan suatu kadens setengah sebanyak empat birama. Kadens diawali akord tonika (C) dan variasi bas hasil pembalikan pertama akord C (C/E). Birama ketiga dan keempat memakai akord dominan (G) dan variasi basnya (G/B). Karena kadens setengah ini berakhir dengan akord dominan (G) sementara seluruh lagu belum berakhir, akord G/B pada ketukan ketiga dan keempat birama terakhir dilarang. Akord terakhir haruslah akord dasar, yaitu, G, seperti berikut:

BETUL

Tanase1

Triad subdominan

Kalau triad dasar subdominan (F-A-C atau 4-6-1 dengan nada terakhir sebagai nada tertinggi) Anda balikkan pertama kali, Anda memakai nada ketiganya (A) sebagai nada bas urutan triad yang baru. Urutan yang baru menjadi A-C-F atau 6-1-4 dengan nada pertama sebagai nada terendah. Sebagaimana halnya dengan triad tonika dan dominan, triad subdominan ini tergolong pada triad mayor.

Apa sifat dan peranan pembalikan pertama triad subdominan? Bunyi triadnya tajam dan menonjol; selain itu, triad hasil pembalikan pertama ini tidak tenang, ingin menjadi tonika. Meskipun demikian, kecenderungannya ke tonika tidak sekuat kecenderungan triad subdominan dasar. Selain itu, triad subdominan hasil pembalikan pertama ini berperan sebagai variasi sesudah subdominan dasar untuk membentuk jalur melodi bas.

Nyiur Hijau

Potongan melodik dari suatu lagu perjuangan yang indah gubahan Maladi, Indonesia, ini diawali rangkaian akord C, balikannya yang pertama (C/E), dan G. Variasi bas C dan C/E Anda amati pada birama kedua, keempat, dan keenam. Variasi petikan bas untuk akord subdominan dan balikannya yang pertama Anda amati pada birama ketiga dan keenam. Variasi ini bersama variasi bas untuk akord tonika dan bas dominan (G) mengurangi monotoni iringan bas lagu yang indah ini.

13 November 2008

16. Latihan Memainkan Notasi Ritmik

Ada tujuh macam notasi ritmik yang sudah Anda pelajari dari bab 1 sampai dengan 15 blog ini. Untuk memantapkan latihanmu, Anda akan diberi notasi ritmik lengkap, kemudian tujuh lagu disertai akord, pola ritme, jalur bas, dan pukulan drum untuk latihan Anda. Sebagian besar lagu itu ciptaan saya; selebihnya saya adaptasi dari beberapa lagu lain.

Semua lagu lengkap tadi dalam bentuk fail audio. Anda bisa mengaksesnya dalam pelajaran ini. Tugas Anda hanya berlatih memainkan setiap pola irama dalam setiap lagu lengkap ini.

Langkah-Langkah Berlatih

Dengarkanlah setiap lagu lengkap sebagai suatu contoh soal. Kemudian, mainkanlah bagian iringan lagunya. Iringan ini Anda tahu dari ritme gitar iringan yang berbunyi. Anda bisa mengulang-ulangi latihanmu sampai Anda menguasai pukulan gitarmu dengan mantap. Sesudah itu, pelajarilah lirik lagunya sebelum Anda menyanyikannya mengikuti petikan melodi utama dalam fail audio. Akhirnya, iringilah lagu itu mengikuti contohnya dalam fail audio sambil menyanyikan liriknya. Janganlah pindah ke lagu berikut sebelum Anda menguasai suatu lagu.

Untuk mengenal judul setiap lagu, sentuhlah dengan mouse pointer boomp3 pada side bar. Judulnya akan muncul di bawah. Klik situs ini dan Anda akan dibawa ke arsip lagu-lagu saya.

Ayolah Semuanya

Ayolah Semuanya

Pukulan gitarmu semuanya bersifat down-strum. Intro lagunya sebanyak dua birama dan nada dasarnya adalah mayor C. Meski kedengaran sederhana, pola iringan gitar ini menjadi pola ritme dasar dari lagu-lagu jazz modern tertentu. Ayolah Semuanya

Ayolah s'muanya bersenang: berenang, berjemur./ Pantainya bersih (2 X ).

Tidak Aku Tahu

Tidak Aku Tahu

Catatan: Angka 1 di akhir judul lagu ini hanya kode arsip saya.

Dua garis ganda, masing-masing diberi titik dua di kiri dan kanannya. Ini menunjukkan bahwa lagu ini harus Anda ulangi sekali lagi sebelum Anda memainkan akord C pada birama terakhir.

Tidak Aku Tahu

Tidak aku tahu/ ke manakah perginya/ nona di seb'rang rumahku./ Lama tungguku/ berharap seg'ra datang/ nona di seb'rang, kasihku./ Hati tak tent'ram.

Anita

Anita

Notasi ritmik ini menunjukkan kombinasi pukulan down-strum dan up-strum. Garis-garis ganda beritik dengan tanda kurung berangka 1 dan 2 menandakan bahwa Anda harus mengulangi lagunya.

Anita

Anita, Anita, Anita./ Wajah cerah, pipimu lesung,/ suaramu merdu-/ engkau idamanku:/ tiada secantik kau./ Anita, Anita, Anita./ Wajah cerah, pipimu lesung,/ suaramu merdu-/ engkau idamanku:/ tiada secantik engkau, Anita.

Ya Allah yang Mahatinggi

Nyanyian ini diambil dari Kidung Jemaat nomor 246. Lagunya diciptakan Daniel Papa (sekitar 1975) sementara syairnya digubah Nande Rohani Bangun (1978). Hanya bait pertama nyanyian ini saja yang dipakai.

Ya Allah yang Mahatinggi

Ya Allah yang Mahatinggi

Ya Allah yang Mahatinggi,/ Kau Pencipta dunia ini;/ kami juga Tuhan ciptakan,/ agar Dikau tetap dipuji,/ Engkau Bapa yang memberkati/ tiap orang yang rendah hati./ Tolonglah kami sekarang ini/ dan selamanya.

Kakek Lapar S'kali

Lagu ini suatu contoh dari jenis lagu pop Barat yang disebut turnaround. Suatu progresi akord diulang-ulangi selama beberapa birama untuk mengiringi suatu melodi yang diciptakan berdasarkan progresi ini. Kata-kata lagu ini bernada humoristis.

Kakek Lapar S'kali

Kakek Lapar S'kali

Kakek lapar s'kali/ mimpi tentang hidangan lezat;/ tidak bisa makan:/ giginya ompong (2 x).

He's Got the Whole World

He's Got the Whole World

Ini suatu lagu gospel terkenal di Amerika Serikat. Ia terkenal juga di Indonesia.

Dengarkanlah fail audio dan Anda mendengarkan irama swing/shuffle dari lagu ini. Anda, karena itu, harus menghasilkan pukulan gitar berirama swing/shuffle.

Titik-titik di bawah not-not tertentu menandakan bahwa Anda harus memakai teknik stakato. Caranya? Redamlah gripmu pada nada-nada stakato tadi. Anda meredam gripmu dengan merenggangkannya sedikit. Kalau ada senar terbuka (tidak ditekan dengan ujung jarimu), redamlah dengan bagian dalam telapak tangan kananmu. Cobalah berlatih memainkan efek statako dengan meredam gripmu sampai Anda menguasai teknik ini dengan mantap. Sesudah itu, ikutilah langkah-langkah yang sudah disebutkan.

He's Got the Whole World

He's got the whole world in His hands,/ He's got the whole world in His hands,/ He's got the whole world in His hands,/ He's got the whole world in His hands (2 x).

Yamko Rambe Yamko

Yamko Rambe Yamko

Notasi ritmik lagu rakyat Papua ini tampak menantang. Pola iringan gitarmu harus menghasilkan beberapa efek. Pertama, Anda harus meredam nada kedua dan keenam dalam setiap birama untuk menghasilkan efek stakato. Kedua, secara khusus, nada keenam ditandai bentuk mirip huruf v terbalik; ini berarti nada itu harus Anda bunyikan sedikit lebih nyaring. Ketiga, tanda yang sama Anda perhatikan pada not ketiga dari kiri dalam setiap birama. Ini berarti Anda harus membunyikan nada ini sedikit lebih nyaring untuk menegaskan efek sinkopasi dalam setiap birama. Efek sinkopasi ini Anda amati pada nada ketiga dan keempat yang masing-masing diikat oleh busur-sambung. Sebaiknya Anda berlatih dulu menguasai pola iringan ini sebelum Anda mengiringinya dengan memakai fail audio lagu ini.

Perhatikanlah bahwa bagian-bagian tertentu lagu ini diulang-ulangi. Ini suatu ciri khas lagu-lagu rakyat tradisional Papua.

Yamko Rambe Yamko

Hei yamko rambe yamko,/ arunawa kombe./ Hei yamko rambe yamko,/ arunawa kombe./ Temino kibi kuba muko bumbeko,/ yuma nobungo awe ade./ Temino kibi kuba muko bumbeko,/ yuma nobungo awe ade./ Honge-hongke hongke riro/ hongke jambe, jambe riro./ Hongke-hongke hongke riro/ hongke jambe, jambe riro.

15 Oktober 2008

15. Nada Non-harmonik dan Kadens Lain

Dalam bab sebelumnya, Anda sudah belajar tentang beberapa jenis nada non-harmonik. Ada nada samping atau ampiran, nada tetangga, dan nada suspension. Anda juga sudah memahami kadens setengah dan kadens biasa atau otentik.

Bab ini akan melanjutkan pembicaraan tentang beberapa jenis nada non-harmonik dan kadens lain. Ini akan melengkapi pembahasan mendasar tentang nada non-harmonik dan kadens.

Nada-Nada Non-harmonik yang Lain

Nada-nada ini mencakup apogiatura (disingkat app.), retardasi, antisipasi, ekapi, dan kambioto. Retardasi dan antisipasi dipakai dalam harmoni sementara apogiatura dan ekapi dipakai dalam melodi. Jenis-jenis nada non-harmonik ini dipakai dalam nyanyian dan melodi modern.

Apogiatura

Teknik menghias nada ini biasanya ditempatkan satu nada di atas nada akord. Dengan kata lain, apogiatura adalah suatu interval kedua atas untuk suatu nada akord di bawahnya. Nada non-harmonik ini mencapai kekendorannya pada nada akord yang berada setangga di bawahnya. Apogiatura harus dipakai pada suatu ketukan berat dan menjadi kendor mengikuti gerak menurun. Apogiatura sering ditulis sebagai suatu grace note.

Grace note adalah suatu istilah Inggris untuk suatu not hiasan. Not ini ditempatkan sebelum not pokok yang dihiasinya, dibunyikan segera sebelum not pokoknya tapi harus membentuk satu ketukan bersama dengan not pokoknya. Grace note bisa membentuk hiasan satunada atau setengahnada dari not pokoknya.

Suatu contoh apogiatura:

Apogiatura

Apogiatura berbentuk grace note ditandai suatu anak panah. Not awal non-harmonik ini adalah suatu do yang harus Anda mainkan cepat sebelum not si di bawahnya. Kedua not ini harus Anda mainkan dalam satu ketukan.

Suatu lagu pop klasik yang memakai apogiatura adalah Yesterday dari the Beatles. Nada pertama awalnya memakai satu nada setinggi satunada dari nada akord di bawahnya.

Yesterday

Apogiatura - not re - dimulai oleh not pertama yang diberi tanda anak panah. Nada akord yang menyusul pada not kedua adalah not do.

Retardasi

Suatu retardasi mirip suatu suspension tapi nada yang dikendorkan berjarak satunada diatonik ke atas dengan nada non-harmonik yang membentuk retardasi. Satunada diatonik ke atas sama dengan satu interval kedua atas, dengan nada pertama, nada lebih rendah, sebagai nada non-harmonik.Nada lebih tinggi sekaligus adalah nada akord.

Retardasi

Contoh retardasi

Tanda panah menunjukkan nada retardasi. Meskipun nada ini bagian dari akord di kirinya, ia - untuk sementara - menjadi bagian akord di tengah sebelum beralih menjadi nada akord ini. Nada retardasi sebagai suatu nada non-harmonik membentuk suatu interval kedua atas dengan nada berikutnya, yaitu nada akord.

Antisipasi

Antisipasi adalah suatu not yang dibunyikan mendahului akord yang berisi not itu. Antisipasi dibentuk oleh dua not yang membentuk interval kedua atau lebih. Not bawah interval itu adalah suatu not akord sementara not atasnya adalah suatu not non-harmonik. Not atas yang tegang ini dikendorkan ketika ia kembali pada akord C, tempat asalnya. Kalau not non-harmonik yang tegang ini dikendorkan oleh suatu interval di atas interval kedua, ia disebut antisipasi bebas.

Antisipasi

Tanda panah dan singkatan ant. menunjukkan not antisipasi, not yang berasal dari akord C birama kedua. Not ini mendahului akordnya dan menjadi suatu not non-harmonik sementara bagi akord G7.

Berikut adalah suatu contoh antisipasi - ditandai anak panah - berdasarkan suatu kutipan bagian akhir suatu nyanyian gereja, "Kudengar Panggilan Tuhan" (Nyanyikanlah Kidung Baru no.125). Not antisipasi yang adalah not akord terakhir (G) dimajukan menjadi salah satu not akord D7.

Contoh antisipasi

Ekapi

Ekapi disebut juga "nada lepas (escape tone)". Ia melepaskan diri dari harmoni secara bertangga lalu melompat ke dalam arah yang berlawanan dan mencapai kebebasan dalam akord berikut. Dengan cara ini, ekapi atau nada lepas adalah sejenis apogiatura terbalik. Ekapi kromatik jarang ditemukan karena gerak ekapi kromatik menuju kekendoran yang tidak bersifat diatonik.

Simak suatu contoh ekapi berikut:

Ekapi

Nada yang ditandai anak panah menunjukkan not sol yang membentuk interval kedua atas dengan not fa dari akord F. Not sol ini sekaligus menghasilkan nada non-harmonik, suatu nada hiasan, yang menimbulkan efek tegang sementara. Nada lepas ini membentuk suatu interval ketiga dengan nada mi dari akord C, akord yang memberi kekendoran atau kelegaan pada nada lepas tadi.

Contoh ekapi atau nada lepas - ditandai anak panah - berikut berasal dari fragmen suatu nyanyian gereja, "Besarlah Untungku" dalam Nyanyikanlah Kidung Baru (no. 197). Nada mi membentuk suatu nada lepas, nada non-harmonik, dari harmoni dalam akord D dan D7. Nada lepas ini adalah suatu nada yang tegang dan sekaligus janggal bunyinya karena ia bukanlah nada normal kedua akord tadi. Tapi ekapi ini berlangsung sebentar saja - selama satu ketukan - lalu dikendorkan atau dilegakan oleh akord G birama ketiga.

Fragmen ekapi

Kambioto

Mirip nada lepas, kambioto adalah nada non-harmonik yang meninggalkan nada harmonik melalui lompatan lewat satu tangga. Sesudah itu, kambioto mengendor secara bertangga mengikuti arah yang berlawanan.

Contoh kambioto berikut ditandai anak panah:

Kambioto

Dalam birama pertama, nada re ketukan kedua membentuk suatu interval ketiga bawah dengan nada fa dari akord F pada ketukan pertama. Dalam birama kedua, urutan interval tadi dibalikkan: nada fa sebagai kambioto membentuk suatu interval ketiga atas dengan nada re dari akord G7 ketukan pertama. Setiap kambioto yang non-harmonik itu menghasilkan nada yang tegang terhadap akord di kirinya.

Ketegangan ini lalu dikendorkan melalui akord di kanannya. Dalam hal ini, nada re birama pertama membentuk suatu interval kedua bawah dengan nada mi dalam akord C. Sementara itu, nada fa birama kedua membentuk suatu interval kedua atas dengan nada mi dalam akord C.

Kadens Lain

Sesudah Anda memahami kadens setengah dan biasa dalam bab yang lalu, Anda perlu memahami juga dua jenis kadens yang lain. Ini untuk melengkapi jenis-jenis kadens yang dipakai untuk tangganada mayor.

Kadens otentik sempurna dan taksempurna

Kadens otentik yang sudah dibicarakan dirinci menjadi dua jenis. Pertama, kadens otentik sempurna; dan, kedua, kadens otentik taksempurna.

Kadens otentik sempurna adalah suatu kadens otentik yang di dalamnya akord dominan dan tonika masing-masing masing-masing memakai not dasar. Ini adalah not kelima untuk akord dominan dan not kesatu untuk akord tonika. Not tonika ada dalam bagian sopran akord di akhir suatu lagu.

Kadens otentik taksempurna adalah suatu kadens otentik yang di dalamnya not bagian sopran akord di akhir suatu lagu berakhir tanpa not tonika. Not ini bisa not ketiga atau kelima akord di akhir lagu itu.

Tiga contoh berikut menunjukkan kadens otentik sempurna dan taksempurna:

Kadensotentiksempurnataksempurna

Ketiga birama pertama dengan not terakhir (birama tiga) yang adalah do pada bagian sopran menunjukkan suatu kadens otentik sempurna. Birama empat sampai dengan enam menunjukkan suatu kadens otentik taksempurna yang berakhir dengan not mi. Birama tujuh sampai dengan sembilan menunjukkan kadens otentik taksempurna lain yang berakhir dengan not sol.

Kadens subdominan

Kadens ini dicirikan oleh progresi akord dari tonika (I) ke subdominan (IV). Bandul progresi berayun dari tengah, dari tonika, ke kiri, ke subdominan, dan berhenti di situ. Ketegangan timbul selama bandul ada di kiri dan ini berarti melodi belum selesai. Untuk sementara, akord subdominan mengganti akord tonika sebagai pusat nada lalu berayun balik ke tonika.

Contoh kadens subdominan berikut adalah suatu fragmen dari "Gembala Baik Bersuling nan Merdu" ciptaan C. Akwan dalam Kidung Jemaat no. 415. Progresi akord yang disoroti adalah G-C (I-IV) atau tonika-subdominan. Perulangan progresi ini dalam birama ketiga sesudah ketukan pertamadan kedua, yaitu G-C (I-IV) bukanlah kadens subdominan melainkan urutan akord biasa.

Gembala baik

Kadens plagal

Kadens plagal adalah kebalikan dari kadens subdominan. Dalam kadens ini, bandul berayun dari kiri, dari subdominan (IV), kembali ke tengah, ke tonika (I). Suasana tegang subdominan sekarang menjadi kendor, lega.

Meskipun menjadi kendor, progresi akord IV-I kurang meyakinkan dibanding kadens biasa (V-I). Baik akord subdominan maupun tonika sama-sama punya not do (not tonika), not yang bukan baru bagi tonika.

Karena kesamaan not do tadi, kadens plagal dihindari pemakaiannya sebagai perhentian sementara di dalam dan di akhir suatu lagu. Kadens plagal boleh dipakai hanya dalam kasus khusus di dalam dan di akhir lagu.

Contoh suatu kadens plagal di dalam suatu lagu."Hitung Berkat-Nya" adalah suatu potongan melodi dari suatu gospel terkenal. Harmonisasi aslinya yang benar (birama kedua) sengaja dibuat salah di sini untuk menjelaskan kadens plagal yang dihindari (birama pertama).

Hitung berkat-Nya

Dalam kasus khusus, kadens plagal diizinkan di akhir suatu lagu, seperti bagian akhir My Way, lagu pop tenar itu. Kadens ini dipakai sebagai suatu kejutan. Akord F6 pada dasarnya adalah akord subdominan dalam kunci C diatonik mayor.

My way

Kadens Lengkap

Kadens plagal dan kadens biasa yang digabungkan membentuk kadens lengkap. Bandul kadens ini mengayun dari tengah (T) ke kiri (S). balik ke tengah (T) mengayun ke kanan (D) dan akhirnya mengayun balik ke kiri (T) dan berhenti di situ. Ringkasan progresinya menjadi T-S-T-D-T. Tapi progresi lengkap ini sering disingkat menjadi T-S-D-T.

Suatu lagu gereja singkat, "Amin", menunjukkan suatu bentuk kadens lengkap:

Amin,amin,amin

Tangganada Diatonik Mayor D

Sejauh ini, Anda sudah memahami dan memakai dua tangganada diatonik mayor: C dan G. Sekarang, Anda akan memelajari suatu tangganada mayor lain: D. Tangganada yang memakai kunci trebel dan basnya, dan juga setengahnadanya dalam posisi naik dan turun, demikian:

Tangganada mayor D

Untuk mengingat urutan not ini, Anda bisa memakai berbagai cara. Apa pun cara yang Anda tempuh, ada tiga cara yang gampang. Ingatlah selalu posisi tonika setiap kunci. Dari tonika (not do) ini, Anda bisa membaca atau memainkan tangganadanya dalam posisi naik atau turun, termasuk setengahnadanya. Kemudian, ingatlah bahwa kunci D ditandai dua kres (##). Cara lain adalah dengan mengingat posisi not d (re) pada paranada yang memakai kunci trebel dan bas dari tangganada diatonik mayor C. Ketika tangganada ini diubah menjadi tangganada diatonik mayor D, not d pada posisi kunci C Anda ubah menjadi do.

Notasi Ritmik

Anda akan diperkenalkan pada suatu pola iringan gitar yang baru. Notasi ritmiknya demikian:

Notasi ritmik baru

Berlatihlah untuk memainkan pola ritme dalam birama pertama beberapa kali sampai Anda menguasainya dengan mantap. Pukulan up-strum yang ditandai & pada ketukan kedua dan pukulan down-strum pada ketukan ketiga diberi busur-sambung. Busur-sambung ini berarti Anda tidak boleh membunyikan ketukan ketiga tapi menghitungnya saja sebagai setengah ketukan pertama. Setengah ketukan kedua Anda mainkan pada tanda &. Sesudah pola ritme dalam birama pertama Anda latih berkali-kali dan kuasai dengan mantap, akhirilah pola ini dengan satu pukulan down-strum dalam birama kedua. Meskipun not birama kedua ditandai angka 1, ia sebenarnya harus dihitung sebanyak 4 ketukan.

Latihan Akord

Berlatihlah untuk menguasai akord-akord berikut. Akord-akord ini tergolong pada kunci mayor D. Pakailah notasi ritmik di atas untuk latihanmu.

Akord D

Akord G

Akord A

Akord A7

Akord Em

Akord Bm

Sesudah menguasai akord-akord tadi, pakailah akord-akord ini untuk mengiringi lagu rakyat Papua berikut. Pakailah notasi ritmik yang sudah Anda pelajari untuk mengiringi nyanyian ini dan akhirilah dengan satu pukulan down-strum di akhir nyanyian.

Yamko rambe

10 September 2008

14. Iringan Lagu Harmonik dan Non-harmonik

Sesudah Anda memahami nada-nada non-harmonik dan harmonik, Anda sekarang lebih mudah menetapkan akord-akord dan progresi akord melodi yang memakai kedua macam nada ini. Untuk lebih memantapkan pemahamanmu tentang nada-nada non-harmonik, saya akan menguraikan lagu Gara-Gara Janda Muda dalam bab yang lalu dari sisi lain.

Dalam uraian kali ini, saya mula-mula akan sengaja mengeluarkan semua nada non-harmonik di dalamnya dan mempertahankan nada-nada harmoniknya, yaitu, nada-nada yang ada dalam akord yang dipakai. Kemudian, saya akan mengembalikan nada-nada non-harmoniknya. Dengan cara "bongkar-pasang" demikian, Anda akan memahami nada-nada non-harmonik dengan lebih jelas.

Janda muda harmonik

Sekarang, Anda bisa melihat dengan jelas bahwa setiap nada yang dipakai adalah nada-nada harmonik, nada-nada akord. Melodinya kelihatan sederhana, agak kaku, dan sedikit sekali variasinya.

Untuk membuat melodinya berkembang (lentur, hidup dan bervariasi), saya memasukkan kembali not-not non-harmonik disertai kata-kata lagunya. Anda akan merasakan gerak melodik yang lebih lentur, hidup, dan bervariasi karena melodi sekarang berisi campuran nada-nada harmonik dan non-harmonik. Tapi akord dan progresinya tetap.

Janda muda harmonik non-harmonik

Anda pun bisa memakai metode sederhana tadi untuk memahami nada-nada harmonik dan non-harmonik suatu lagu. Mula-mula, temukanlah nada-nada harmonik atau nada-nada akord lagu itu. Kemudian, keluarkanlah nada-nada non-harmoniknya untuk sementara waktu. Sesudah melodi berdasarkan nada-nada harmonik Anda pahami dengan betul, masukkanlah kembali nada-nada non-harmonik. Lalu, tetapkanlah nada-nada non-harmonik yang dipakai: apakah nada-nada itu tergolong pada nada samping, nada tetangga, atau nada yang ditangguhkan. Metode sederhana ini bisa mempermudah Anda menetapkan akord-akord dan progresi akord yang sesuai dengan melodi.

All Shook Up

Penjelasan tentang nada-nada harmonik dan non-harmonik belum selesai kalau kita tidak melihatnya "bekerja" dalam lagu-lagu sesungguhnya. Untuk itu, saya memilih All Shook Up, suatu lagu rock and roll ciptaan Otis Blackwell dan Elvis Presley (1957). Lagu ini dinyanyikan Elvis dan menjadi suatu hit dunia, termasuk di Papua zaman Belanda. Notasi lengkap bagian awal lagu ini, kunci, dan akordnya demikian:

All shook up

Untuk sementara, kunci Bb dan akord yang dikendalikannya sekadar dikenal saja. Padanannya dengan kunci diatonik mayor C demikian:

Kunci C: C-F7-G7 (tonika-subdominan ke-7-dominan ke-7)

Kunci Bb: Bb-Eb7-F7 (tonika-subdominan ke-7-dominan ke-7)

Akord Eb7 atau subdominan ketujuh berisi not ri di dalamnya. Akord ini dipakai sebagai pengganti Eb (subdominan) dan bisa mendahului akord dominan ketujuh (F7).

Kalau Anda ingin memakai akord subdominan (Eb) yang berdekatan dengan akord subdominan ketujuh (Eb7), dahuluilah akord subdominan ketujuh dengan akord subdominan. SALAH: subdominan ke-7-subdominan (Eb7-Eb). BETUL: subdominan-subdominan ke-7 (Eb-Eb7).

Meskipun notasi All Shook Up memakai pasangan not seperdelapan, lagunya dinyanyikan dengan gaya swing atau shuffle. Dalam gaya ini, setiap pasangan not seakan-akan suatu triul pendek dengan not kedua ditahan sebagai ketukan. Hasilnya? Lagu dinyanyikan mirip lagu mars.

Dengarkanlah nyanyian Elvis dan iringannya dan Anda akan memahami apa itu irama swing/shuffle. Lagunya ada pada side bar blog ini.

Notasi berikut menjelaskan irama swing/shuffle:

Irama swing-shuffle

Paranada di atas menunjukkan notasi lagu. Tapi paranada di bawahnya menunjukkan caranya lagu dinyanyikan atau dimainkan. Setiap pasangan not pada paranada pertama yang masing-masing bernilai seperdelapan dipecah menjadi triul pendek. Not kedua setiap triul pendek dalam birama pertama tidak dibunyikan tapi ditahan sebagai ketukan. Birama kedua paranada bawah menunjukkan penyederhanaan penulisan bentuk triul pendek dalam birama pertama. Bentuk penulisan triul pendek dalam birama kedua itulah yang selalu ditempatkan di awal lagu - sesudah judulnya - didahului tanda sama dengan (=). Di kiri tanda sama dengan ini suatu pasangan not yang masing-masing bernilai seperdelapan ditempatkan.

Notasi swing-shuffle

Catatan: Mainkanlah setiap lagu yang memakai pasangan not yang masing-masing bernilai seperdelapan dengan irama swing/shuffle hanya kalau ada petunjuk ini atau petunjuk yang memakai kata-kata tentang irama ini. Janganlah memainkan lagu apa pun dengan pola notasi macam ini kalau tidak ada petunjuk tentang irama swing/shuffle. Lagu tanpa petunjuk ini harus Anda mainkan dengan cara lain, misalnya, dengan iringan gitar yang kedengaran "enteng" atau "ringan", tidak "diseret" karena memakai irama swing/shuffle yang tidak diminta penciptanya.

Selanjutnya, kata-kata atau suku kata apakah yang dipakai untuk nada-nada non-harmonik? Lirik lengkap All Shook Up akan memperjelas nada-nada non-harmonik yang dipakai di samping nada-nada akord. Kata atau suku kata yang dicetak dengan huruf tebal menandakan nada-nada non harmonik yang dipakai.

Dengarkanlah lagunya sambil memusatkan perhatianmu pada kata-kata atau suku kata yang dicetak dengan huruf tebal. Itulah tempat nada-nada non-harmonik dipakai. Progresi akord yang dipakai akan membantu Anda mengenal nada-nada non-harmonik itu.

All Shook Up

Bb

A-well-a bless my soul.

What's wrong with me?

I'm itching like a man on a fuzzy tree.

My friends say I'm actin; queer as a bug,

I'm in love!

I'm all shook up!

Eb7 F7 Bb Eb7 Bb

Mm, mm, oh, oh, yeah, yeah!

My hands are shaky

and my knees are weak.

I can't seem to stand on my own two feet.

Who do you thank when you have such luck?

I'm in love!

I'm all shook up!

Eb7 F7 Bb Eb7 Bb

Mm, mm, oh, oh, yeah, yeah!

Eb7

Please, don't ask what's on my mind.

Bb

I'm a little mixed up but I'm feelin' fine.

When I'm near that girl that I love best,

F7

My heart beats so it scares me to death!

Bb

She touched my hand,

What a chill I got.

Her kisses are like a volcano that's hot!

I'm proud to say she's my butter cup,

I'm in love!

I'm all shook up!

Eb7 F7 Bb Eb7 Bb

Mm, mm, oh, oh, yeah,yeah!

Eb7

My tongue gets tied when I try to speak.

Bb

My insides shake like a leaf on a tree.

There's only one cure for this soul of mine,

F7

that's to have the girl that I love so fine!

Bb

She touched my hand,

What a chill I got.

Her kisses are like a volcano that's hot!

I'm proud to say she's my butter cup,

I'm in love!/I

'm all shook up!

Eb7 F7 Bb Eb7 Bb

Mm, mm, oh, oh, yeah,yeah!

Eb7 F7 Bb

Mm, mm, mm, mm, yeah, yeah!

I'm all shook up!

Kadens

Suatu lagu atau nyanyian hidup karena bergerak. Geraknya berubah-ubah karena interaksi antara tonika, subdominan, dan dominan, ketiga pilar utama harmoni Barat.

Perubahan ini ibarat bandul yang mengayun terus dari suatu jam dinding. Bandul itu mulai dari tengah lalu anggap saja ia mengayun ke kiri. Ayunan ke kiri lalu balik ke tengah sebelum ia mengayun ke kanan. Sesudah di kanan, ia mengayun ke tengah dan memulai siklus ayunan yang baru.

Gerak melodi yang mulai ibarat bandul dari tengah bisa kita bayangkan sebagai berada pada posisi tonika. Ayunan bandul dari tengah ke kanan dan berhenti sebentar di situ kita bayangkan sebagai berada di posisi dominan. Akord dominan pada posisi ini tegang. Kalimat musik yang berakhir dengan akord dominan belum selesai, seakan-akan dihentikan sebentar oleh suatu koma atau titik koma dalam aturan menulis kalimat bahasa.

Ketegangan musikal yang ditimbulkan posisi dominan dikendorkan ketika bandul berayun dari kanan kembali ke tengah, ke posisi tonika. Timbullah ketenangan, kekendoran, kelegaan, seakan-akan kalimat yang memakai koma atau titik koma (posisi dominan) dilanjutkan dengan bagian kalimat lain yang berakhir dengan titik (posisi tonika).

Kiasan tentang gerak melodi sebagai bandul tadi menyiratkan apa yang dalam musik Barat diistilahkan sebagai kadens.Kedua macam ayunan tadi barulah dua dari lima kemungkinan mengakhiri suatu gerak melodi.

Jadi, apa itu "kadens"? Suatu kadens adalah suatu progresi dari biasanya dua akord yang memberi efek penutupan suatu "kalimat" dalam musik. Bandul yang berayun dari tengah ke kanan, dari posisi tonika ke dominan dan membentuk progresi akord tonika ke dominan disebut kadens setengah. Sebaliknya, bandul yang berayun dari kanan kembali ke tengah, dari posisi dominan ke tonika dan membentuk progresi akord dominan ke tonika disebut kadens otentik, kadens yang sejati.

Kedua jenis kadens ini (dan jenis-jenis lainnya) dibatasi pada tangganada mayor. Untuk bab ini, pembahasan kadens dibatasi juga pada kedua jenis kadens ini.

Contoh-contoh kadens setengah

Untuk jelasnya, beberapa contoh kadens setengah diberikan. Kadens-kadens ini ibarat kalimat dalam bahasa yang belum selesai karena berakhir dengan koma atau titik koma. Kadens-kadens ini berbentuk frasa-frasa melodik yang berisi nada-nada harmonik atau campuran nada-nada harmonik dan non-harmonik.

Kadens setengah janda muda

Akord tonika (G) yang memulai kalimat melodik sebanyak empat birama ini berakhir untuk sementara dengan akord dominan (D). Akord C/G termasuk pada rangkaian progresi dari akord tonika ke akord dominan. Pemakaian akord dominan menimbulkan suatu ketegangan; kalimat melodiknya mirip kalimat bahasa yang berakhir dengan koma atau titik koma, kalimat yang belum selesai.

Kadens setengah kami puji

Kalimat melodik yang terdiri dari empat birama ini memakai kadens setengah. Tapi progresi dari tonika ke dominan diselingi rangkaian akord tonika dengan dominan sebagai bas (G/D) dan dominan (D) pada birama kedua. Perhatikan kalimat syairnya; kalimat ini berakhir sementara dengan suatu titik koma.

Kadens setengah ibu pertiwi

Kalimat melodik yang terdiri dari empat birama ini membentuk suatu kadens setengah yang lain. Akord tonika (G) yang akan bergerak ke akord dominan (D) diselingi suatu akord subdominan (C). Frasa kalimat syairnya berakhir untuk sementara juga dengan suatu titik koma.

Contoh-contoh kadens otentik

Kebalikan dari kadens setengah ada kadens otentik. Kadens otentik mirip suatu kalimat bahasa yang berakhir dengan titik. Kekendoran musikal Anda capai ketika progresi akord dari dominan atau dominan ketujuh ke tonika.

Kadens otentik janda muda

Lagu rakyat Papua ini dibentuk oleh delapan birama. Empat birama pertama memakai kadens setengah; empat birama kedua yang mengakhiri gerak melodiknya memakai kadens otentik. Lagu yang mengakhiri geraknya seperti contoh ini sering memakai akord dominan ketujuh sebagai pendahulu akord tonika di akhir lagu. Progresi akord dominan ketujuh-tonika di akhir suatu lagu membentuk suatu kadens otentik yang kuat. Frasa kalimat kedua mengakhiri syair lagu melalui suatu titik.

Kadens otentik kami puji

Kadens otentik sebanyak empat birama ini paling jelas dari kedua akord terakhir, yaitu progresi D7 (dominan ketujuh) ke G (tonika). Tapi progresi sesungguhnya dimulai dari akord G pada birama pertama melalui suatu "lika-liku" progresi akord pada sebagian birama pertama dan seluruh birama kedua dan ketiga sebelum mencapai dominan ketujuh, pendahulu tonika. Frasa kalimat syairnya yang merupakan lanjutan frasa pertama dalam kadens setengah lagu ini berakhir dengan titik. Meskipun demikian, kadens otentik ini hanya suatu bagian dari suatu lagu gereja yang lebih panjang. Dengan kata lain, kadens otentik dalam contoh tadi hanya suatu perhentian tenang yang bersifat sementara.

Kadens otentik ibu pertiwi

Kalimat melodik yang terdiri juga dari empat birama ini, suatu kadens otentik yang lain, nyata sekali dari akord dominan ketujuh (D7) yang mendahului akord tonika (G). Tapi progresi ini sebenarnya mulai dari akord tonika (G) pada birama pertama melewati akord subdominan (C) dan tonika (G) sebelum mengakhiri kalimatnya dengan urutan dominan ketujuh dan tonika. Bagian kedua kalimat syairnya pun berakhir dengan suatu titik. Meskipun demikian, kalimat melodik tadi bukanlah akhir lagu nasional Indonesia yang diilhami lagu gereja What a Friend We Have in Jesus! Terjemahan Indonesianya dalam Kidung Jemaat nomor 453 berjudul Yesus Kawan yang Sejati.

Kadens setengah dan otentik

Dari uraian tentang kalimat-kalimat melodik dan jenis kadens yang dilibatkannya, Anda tahu kadens setengah dan otentik bisa digabungkan secara kronologis, yaitu, mengikuti urutan waktu. Gabungkanlah contoh-contoh kalimat melodik tadi dan Anda akan menggabungkan kembali dua kalimat melodik setiap contoh. Kecuali Gara-Gara Janda Muda, setiap pasangan contoh yang Anda gabungkan kembali tidak mengakhiri lagu sama sekali.

Kalimat Melodik

Anda sudah membaca beberapa kali frasa "kalimat melodik". Apa itu?

Frasa ini bisa dijelaskan melalui kata "melodi". Secara ringkas, suatu melodi adalah suatu rangkaian not yang dipandang sebagai suatu kesatuan. Dengan kata lain, suatu melodi punya suatu awal dan akhir.

Dari definisi tadi, Anda paham bahwa suatu kalimat melodik adalah suatu bagian dari suatu melodi. Bagian ini bisa membentuk bagian akhir suatu lagu - seperti bagian akhir Gara-Gara Janda Muda - dan bisa juga tidak - seperti bagian kedua yang membentuk kadens otentik Kulihat Ibu Pertiwi dan Kami Puji dengan Riang.

Frasa "kalimat melodik" secara longgar mencakup suatu gagasan musikal yang lengkap tapi yang tidak perlu berakhir. Ia berakhir dengan suatu kadens yang lazimnya sebanyak empat birama, terkadang sebanyak dua birama. Dalam musik Barat, kalimat melodik sesuai arti ini disebut frasa. Contoh-contoh kalimat melodik tadi yang menjelaskan kadens setengah dan otentik dan masing-masing membentuk empat birama dengan demikian tergolong pada frasa-frasa.

Dua frasa yang berkaitan membentuk suatu periode. Dalam musik Barat, suatu periode berakhir dengan suatu kadens yang kuat (seperti kadens otentik) dan biasanya sebanyak delapan birama. Suatu periode dalam musik mirip suatu kalimat utuh - berakhir dengan titik, tanda seru, atau tanda tanya - dalam bahasa. Setiap pasangan contoh kadens setengah dan otentik tadi membentuk suatu periode.

Notasi Ritmik

Sebelum belajar mengiringi lagu-lagu yang dibentuk oleh kombinasi kadens setengah dan otentik, Anda perlu memelajari suatu pola iringan yang baru. Notasi ritmiknya demikian:

Notasi ritmik 6

Berlatihlah untuk memainkan notasi ritmik dalam birama pertama berkali-kali sampai Anda menguasainya dengan baik. Pukulan down-strum bersamaan dengan hitungan satu, dua, tiga, dan empat. Pukulan up-strum berbarengan dengan hitungan dan (&). Lebih mudah Anda melatih ketukan per birama dengan menghitung secara berirama dalam bahasa Inggris (sambil mengetuk matra pada sesuatu yang keras): one and two and three and four and. Kemudian, akhirilah pola ritmik ini dengan satu pukulan down-strum pada birama kedua.

Periode, Kadens Setengah dan Otentik

Sebelu memulai iringanmu dengan memakai notasi ritmik tadi, Anda perlu mengenal periode. Setiap periode dibentuk oleh dua frasa, masing-masing sebanyak dua sampai dengan empat birama. Periode yang akan Anda pelajari dibatasi pada yang melibatkan kombinasi kadens setengah dan otentik.

Ada periode yang membentuk nyanyian atau lagu pendek atau agak pendek. Suatu nyanyian pendek bisa dibentuk oleh satu periode yang mencakup empat atau delapan birama. Dua periode dengan demikian membentuk suatu nyanyian yang agak pendek, antara delapan dan enam belas birama.

Kadens setengah dan otentik bisa dilibatkan dalam satu periode atau dua periode. He's Got the Whole World, suatu lagu gospel terkenal, terdiri dari delapan birama. Ia dengan demikian membentuk satu periode. Ia juga melibatkan kadens setengah dan otentik dan tentu kombinasi nada-nada harmonik dan non-harmonik.

Pakailah notasi ritmik yang sudah Anda latih untuk mengiringinya. Ia harus Anda mainkan dengan memakai irama swing/shuffle.

He's got the whole world

Perhatikanlah bahwa permainan gitarmu harus mulai pada setengah ketukan diam sebelum Anda mulai menyanyi. Permainan itu ada pada birama pertama, ketiga, kelima, dan ketujuh. Anda perhatikan juga bahwa nada A (la) membentuk nada non-harmonik, yaitu, nada tetangga atas dengan not G (sol), pada kata His. Demikian juga, nada E (mi) pada ketukan kedua di atas kata the pada birama ketujuh membentuk nada non-harmonik yang lain, yaitu, interval ketiga bawah dengan not G (sol).

Kadens setengah mencakup tiga birama dan mulai dari progresi akord tonika ke dominan ketujuh, dari C ke G7. Kemudian, kadens otentik mulai dari dominan ke tujuh (G7) ke tonika (C), diganti kadens setengah (C ke G7) dan berakhir dengan kadens otentik pada birama terakhir (G7 ke C). Pendek kata, lagu gereja tadi merupakan kombinasi kadens setengah dan otentik.

Contoh berikut adalah bagian refrein dari suatu ciptaan saya, Sungguh Baik Kasih-Nya. Refrein sebanyak delapan birama ini membentuk satu periode. Mainkanlah refrein ini pada gitarmu dengan memakai notasi ritmik di atas. Karena saya tidak memberikan catatan tentang irama swing/shuffle di bawah judulnya, Anda harus mengiringinya dengan memakai gaya "enteng" atau "ringan".

Sungguh baik kasihNya

Refrein dibuka dengan suatu kadens otentik karena ada progresi akord dari dominan ketujuh (G7) ke tonika (C). Progresi ini beralih menjadi tonika-dominan ketujuh (C-G7) dan membentuk kadens setengah. Jelaslah, refrein in adalah juga suatu kombinasi kadens otentik dan setengah.

LATIHAN 1

Lagu berikut berisi campuran nada-nada harmonik atau akord dan non-harmonik. Tentukanlah nada-nada non-harmoniknya dan jelaskanlah apakah nada-nada itu tergolong pada nada samping/ampiran, nada tetangga, atau nada yang ditangguhkan (suspension). Untuk mengingatkan Anda kembali kepada nada-nada non-harmonik, bacalah sekali lagi bab 13. Jawaban yang betul diberikan di akhir bab ini.

Haleluya, haleluya

LATIHAN 2

Pada birama berapakah kadens otentik dipakai? Akord-akord dasar apakah yang digantikan oleh akord Em dan Am sebagai variasi?

LATIHAN 3

Penggalan lagu berikut, No More, adalah versi bahasa Inggris nyanyian Elvis Presley dari La Paloma, suatu lagu berbahasa Spanyol yang sangat terkenal. Pelajarilah lagunya. Kemudian, tuliskanlah akord tonika dan dominan ketujuh pada garis-garis yang tersedia di atas not. Tentukanlah juga kadens setengah dan otentik yang dilibatkan dalam lagu ini. Jawaban yang betul ada di akhir bab ini.

No more

LATIHAN 4

Ciptakanlah lagumu sendiri. Lagu itu melibatkan kombinasi kadens setengah dan otentik. Iringilah dengan pola ritme dalam notasi ritmik di atas.

Jawaban yang Betul

LATIHAN 1

BiramaKetukanUrutan notNada non-harmonikJenis nada non-harmonik
2-34 (birama 2) dan 1 (birama 3)G-F#-E (do-si-la)F# F# membentuk nada ampiran turun (F#-E, si-la)
42-4F#-E-F#EE membentuk nada tetangga bawah (E-F#, la-si)
51-2E-GEE adalah nada ditangguhkan yang tidak disiapkan
6-74 (birama 6) dan 1 (birama 7)G-F#-EF# F# membentuk nada samping turun (F#-E)
7-84 (birama 7) dan 1 (birama 8)E-G-F#GG membentuk interval ke-3 atas dengan E (E-G, la-do)
82-4F#-E-F#EE adalah nada tetangga bawah dari F#

LATIHAN 2

Birama 8-9: Progresi akord D7-G atau dominan ketujuh-tonika. Akord diatonik dasar yang diganti oleh Em adalah G dan oleh Am adalah F.

LATIHAN 3

Birama pertama dan seterusnya dimulai sesudah not pertama di awal lagu. Not pertama ini sebenarnya adalah not keempat, membentuk "ketukan gantung" atau pickup measure.

Birama 1: C; birama 4: G7; birama 8:C; birama 12: G7; dan birama 16: C.

Kadens setengah C-G7, kadens otentik G7-C. Kombinasi kedua jenis kadens: C-G7-C-G7-C.